Ada kesalahan di dalam gadget ini

03 Maret 2010

MEDIA DAN BERITA DILIHAT DARI PARADIGMA KRITIS

Paradigma kritis mempunyai padangan tersendiri terhadap berita, yang bersumber pada paradigma berita tersebut diproduksi dan bagaimana kedudukan wartawan dan media bersangkutan dalam keseluruhan produksi berita. Paradigma pluralis percaya bahwa wartawan dan media adalah entitas yang otonom, dan berita yang dihasilkan haruslah menggambarkan realitas yang terjadi di lapangan. Sementara paradigma kritis mempertanyakan posisi wartawan dan media dalam keseluruhan struktur sosial dan kekuatan sosisal yang ada dalam masyarakat. Pada akhirnya posisi tersebut. Mempengaruhi berita, bukan pencerminan dari realitas yang sesungguhnya. Perbedaan tersebut dapat digambarkan selengkapnya sebagai berikut. (Terlampir).

1. Fakta

Dalam konsepsi pluralis , diandalkan ada realitas yang bersifat eksternal yang ada dan hadir sebelum wartaan meliput. Jadi ada pandangan yang objektif, yang harus diambil dan diliput oleh wartawan. Pandangan ini bertolak belakang dengan pandangan kritis. Bagi pandangan kritis, realitas merupakan kenyataan semu yang telah tebentuk oleh kekuatan sosial, politik, dan ekonoi. Oleh karena itu, mengharapkan realitas apa adanya tidak mungkin, karena sudah tercelup oleh kelompokm ekonoi politik yang dominan. Berita aalah mirror of reality, sehingga ia harus mencerminkan realitas yang hendak diberitakan, Pandangan ini ditolak oleh kaum kritis. Menurut pandangan kritis, berita adalah hasil dan pertarungan wacana antara berbagai kekuatan dalam masyarakat yang selalu melibatkan pandangan dan ideologi wartawan atau media. Bagaimana realitas itu dijadikan berita sangat tergatung bagaimana pertarungan itu terjadi, yang umumnya dimenangkan oleh kekuatan dominan dalam masyarakat. (Tugas: Buatlah analisis (fowler, van Dijk, Fairclouch, Foucault, atau Halliday) bagaimana media, khususnya discource parctice (produksi berita) tentang pertarungan SBY Berbudi, YK-Win, dan Mega –Pro dalam Pilpres 2009. Identifikasi media-media mana yang pro dan kontra ketiga kandidat presien.

2. Posisi Media

Kaum pluralis melihat media sebagai saluran yang bebas dan netral, di mana semua pihak dan kepentingan dapat menyampaikan posisi dan pandangannya secara bebas. Pandangan semacam ini ditolak kaum kritis. Pandangan kirtis melihat medaia bukan saja alat atau kelompok dominan, tetapi juga memproduksi ideologi dominan. Media membantu kelompok dominan menyebarkan gagaannya, mengontrol kelompok lain, dan membentuk konsesnsus antaranggota komunitas. Lewat medialah ideologi dominan, apa yang baik dan apa yang buruk dimapankan. Media bukan sekedar saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas ,lengkap denan pandangan, bias, dan pemihakannya.

Titik enting dalam memahami media menurut pandangan Kritis adalah bagaimana media melakukan politik pemaknaan. Makna tidak tergantung pada struktur makna itu sendiri, tetapi pada praktik pemaknaan. Makna adalah produksi sosial suatu praktik. Media massa tidak memproduksi tetapi menentukan (to define) realitas melalui pemakaian kata-kata terpilih. (Contoh : Slogan SBY berbudi, YK-Win, Mega-Pro. Dll)

3. Posisi Wartawan

Pendekatan pluralis menekankan agar nilai-niai dan hal-hal di luar objek dihilangkan dalam prose pembuatan berita. Artinya pertimbangan moral yang dalam banyak hal selalu bisa diterjemahkan sebagai bentuk keberpihakan hsruslah disingkirkan. Intinya, realitas haruslah didudukkan dalam fungsinya sebagai realitas yang faktual, yang tidak boleh dikotori oleh pertimbangan subjektif. Wartawan disini fungsinya hanya sebagai pelapor. Sebagai pelapor ia hanya menjalankan tugas untuk memberitakan fakta, dan tidak memperkenalkan munculnya pertimbangan moral nilai tertentu. Petimbangan-pertimbangan tersebut dapat membelokkan warwawan—apapun alasannya—menjauhi realitas yang sebenarnya. Berita hanya ditulis untuk funsi penjelas (eksplanasi) dalam menjelaskan realita atau fakta.

Pandangan ini ditolak oleh kaum kritis. Aspek etika, moral dan nilai-nlai tertentu tidak mungkin dihilangkan dalam pemberitaan media massa. Wartawan bukan robot yang meliput apa adanya. Moral yang dalam banyak hal bearti keperpihakan pada suatu kelompok atau nilai tertentu –umumnya dilandasi oleh keyakinan tertentu—adalah bagian integral yang tidak terpisahkan dalam membentuk dan mengkonsumsi realitas.

Salah satu perbedaan dasar antara pandangan pliralis dan kritis adalah bagaimana wartawan dilihat, terutama bagaimana kerja profesional dari wartawan dipahami. Pandangan libeal percaya bahwa media adalah sebuah sistem kerja yang dilandasi oleh pembagian kerja rasional. Oleh karena itu, poisisi kerja wartaan diatur dalam serangkaian praktik profesionalisme dan etik yang mendasari tindakan wartawan

Wartawan dalah kelas tersendiri dan dalam hubungannya dengan redaktur, pemilik modal, dan pemasaran adalah relasi antar kelas yang berbeda, bukan hubungan profesional. Marks Schulman, menggambarkan perbedaan itu seperti berikut. Pertama. Pandangan pliralis melihat wartawan dalam suatu sistem yang otonom dan bekerja menurut sisem yang ada. Wartaan bagian dari sistem dan menjalankan tugas sesai dengan fungsinya dalam struktur an pembagian kerja yang ada. Wartawan adalan penjaga gerbang (gatekeeping). Sedang pandangan kritis menganggap bahwa wartawan itu bagian dari kontrol dan sensor itu sendiri. Bentuk sensor itu diwujudkan dalam penghukuman dan imbalan.

Kedua, berhubungan degan landasan apa yang dipakai wartawan dalam menulis berita. Dalam pandangan pluralis fakta apa yang ditulis, bagian mana yang ditonjolkan, fakta apa yang seharusnya tidak ditulis, semua diatur oleh pandangan etis profesional. Seang pandangan kritis melihat bahwa proses dan kerja berita bukan didasarkan pada landasan etis profsional tetapi landasan ideologis. Ideologis mendorong wartawan untuk menulis berita dengan cara seperti itu. Keiga, bagaimana profesionalisme wartawan dilihat. Dalam pandangan pluralis pekerjaan didasarkan pada prinsip penyeleaiana tuas, deadline, dan tugas yang dibebankan. Pandanan kritis lebih mendasarkan profesionalisme sebagai bagian dari kontrol, apa yang boleh-tidak boleh. Ia melakukan kerja jurnalistik yang tidak bebas dan bertindak dengan nkontrol dan mekanisme yang ditentukan

4. Hasil Liputan

Dalam pandangan pluralis ada standar baku dari hasil kerja jurnalistik, sebagai peliputan yang berimbang, dus sisi, netral, dan objektif. Dalam pandangn kritis, wartawan harus enghidari bias. Laporan yang baik bila dpat ditekan bias sekecil mungkin. Bias dipandang hal buruk dan harus dihindari.

Pandangan pluralis menganggap bahasa jurnalstik seharusnya straight, langsung, tanpa opini dan penafsiran wartaan, sehinga fungsi bahasa sebagai pengantar realitas akan terwujud. Bahasa jurnalistik menyampaikan ralitas kepada khalayak apa adanya. Sebaliknya bandangan kritis tidak demikian. Bahasa tidak pernah objektifn karena bahasa tidak pernah lepas dari ideologi (ingat Foulcaut, Fowler, Fairclouch). Oleh karena itu, mengandaikan bahasa sebagai representasi dari realitas sosial dalah hal yang mustahil.

Tugas: Deskripsikan cotoh-contoh wartawan dari media massa yang dalam proses produkasinya berkategori pluralis dan kritis dalam hasil liputannya.

Diadopsi dari tulisan: Suroso

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar