Ada kesalahan di dalam gadget ini

06 Maret 2010

Hilangnya Kulonuwun

Susanto Pudjomartono *) Wartawan senior

SAYA tidak begitu percaya ketika seorang teman memberi tahu bahwa ucapan kulonuwun (sapaan di Jawa yang diucapkan seseorang sebelum masuk rumah yang dikunjungi, semacam ”permisi” atau ”punten” di Pasundan) telah menghilang di Yogyakarta dan berganti dengan assalammualaikum. Namun, setelah saya periksa sana-sini, betul juga, di banyak tempat di Yogyakarta, kulonuwun memang mulai menghilang.

Mungkin ini pengaruh gaya hidup islami yang belakangan begitu deras menerpa, seperti juga meluasnya gaya berpakaian jilbab. Di Jakarta, ucapan salam lekum sudah lama menjadi keseharian. Tapi, bagaimana mungkin kulonuwun menghilang di Yogyakarta yang dianggap jantung budaya Jawa?

Bahasa Jawa adalah bahasa daerah yang paling banyak dipakai di Indonesia karena etnis Jawa memang yang terbesar. Dalam perkembangannya, seperti juga pada bahasa daerah lain, bahasa Jawa sangat dipengaruhi dan diinfiltrasi bahasa lain, hingga banyak muncul istilah baru yang diadaptasi begitu saja tanpa mempedulikan tata bahasa dan asal kata.

Begitulah, di Yogyakarta, misalnya, sudah bertahun-tahun kita mendengar istilah ”naik travel”, artinya menumpang kendaraan umum yang diselenggarakan biro perjalanan (travel). Juga hadirnya istilah ”momen”, yang artinya razia oleh polisi lalu lintas. Atau juga ”seles” untuk menyebut salesman atau salesgirl.

Tapi, seperti juga yang terjadi pada bahasa daerah lain, ada kecenderungan pemakaian bahasa Jawa mulai digantikan oleh bahasa Indonesia. Urbanisasi telah menyebabkan banyak orang pindah ke perkotaan, dan di kota, yang masyarakatnya datang dari berbagai etnis, lebih gampang berbahasa Indonesia.

Agaknya, untuk memetri (memelihara) budaya Jawa, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X pada Agustus lalu memerintahkan digalakkannya pemakaian bahasa Jawa untuk pergaulan sehari-hari di lingkungan pegawai negeri sipil di daerahnya. Sebagai pelaksanaannya, Pemerintah Kabupaten Bantul sejak September lalu mewajibkan pegawai negeri sipil di lingkungan setempat menggunakan bahasa Jawa dalam aktivitas komunikasi di tempat kerja. Ketentuan ini hanya berlaku pada setiap Sabtu dan tanggal 20 setiap bulan.

Tujuannya: melestarikan budaya dan bahasa Jawa serta mengamalkan nilai sopan santun dan tata krama budaya Jawa. Bahasa Jawa akan dipakai pada setiap rapat dinas, pembicaraan melalui telepon, dan pelayanan pada masyarakat.

Pemakaian bahasa Jawa memang sangat erat hubungannya dengan sopan santun dan tata krama budaya Jawa. Bahasa Jawa mengenal beberapa tingkatan, ngoko, krama madya, dan krama inggil. Pemakaian tingkatan itu tergantung kepada siapa dan di lingkungan apa kita berbicara. Berbicara dengan seorang tua yang dihormati, misalnya, mestilah dalam bahasa yang halus dan dengan sikap yang sopan.

Tapi ada kecenderungan pemakaian bahasa Jawa halus ini juga mulai memudar. Banyak anak muda di Jawa yang kini tidak mampu berbahasa Jawa halus. Sebagai akibatnya, tata krama dan sopan santun berbahasa juga mulai berubah.

Yang kurang disadari, selain invasi dari bahasa Indonesia, generasi muda Jawa mulai kehilangan pemahaman atas bahasa Jawa kuno, yang biasanya dipergunakan dalam pergelaran wayang kulit. Memudarnya wayang kulit terjadi selama dua puluhan tahun terakhir. Media hiburan utama masyarakat rural kini sudah berganti dengan menonton (acara sinetron) di televisi, dan perhelatan kini lebih sering berupa pertunjukan musik dangdut atau musik pop yang disajikan dengan organ tunggal.

Agar wayang dapat bertahan, banyak dalang yang sekarang memperbesar porsi hiburan dalam pertunjukannya. Adegan gara-gara dan Limbukan masing-masing bisa memakan waktu dua sampai tiga jam. Dalam adegan itu, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, serta Limbuk dan Cangik, memakai bahasa Jawa yang populer. Selain itu, dalam adegan lain banyak dalang yang sengaja meninggalkan bahasa Jawa yang ndakik-ndakik (susah dimengerti alias bahasa Jawa kuno) untuk mempermudah komunikasi dengan penonton.

Masalahnya, selain menjadi media hiburan, wayang kulit berisi piwulang (ajaran moral). Menyurutnya porsi pemberian ajaran moral ini dengan sendirinya juga mempengaruhi pembelajaran tentang etika Jawa yang terkandung dalam pertunjukan wayang. Akibatnya, generasi muda Jawa juga mulai kehilangan pendidikan moral, sopan santun, dan tata krama yang sebelumnya tersaji lewat wayang.

Wayang bukan pertunjukan yang akrab di perkotaan, dan pelan-pelan pemahaman serta penguasaan bahasa Jawa akan makin pudar, termasuk juga tata krama dan sopan santun Jawa. Modernisasi, termasuk urbanisasi, memang telah mengubah lanskap bahasa kita. Hal ini sangat disayangkan. Filsuf Frans Magnis- Suseno bertahun-tahun silam telah mengingatkan bahwa memudarnya wayang kulit akan ikut juga menghilangkan pendidikan etika Jawa, dan pendidikan moral akan bergantung sepenuhnya pada pendidikan etika Barat, yang sekarang menguasai sistem pendidikan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar