Ada kesalahan di dalam gadget ini

04 Maret 2010

Jenis Bahasa Menurut Tinjauan Urutan Pemerolehan

Dari proses pemerolehannya, bahasa bisa dipilah menjadi bahasa ibu atau bahasa pertama, bahasa kedua, dan bahasa asing. Penamaan bahasa ibu dan bahasa pertama mengacu pada sistem linguistik yang sama. Yang disebut bahasa ibu adalah adalah bahasa yang pertama kali dipelajari secara alamiah dari ibunya atau dari keluarga yang memeliharanya. Biasanya bahasa ibu sama dengan bahasa daerah orang tuanya. Akan tetapi pada masa sekarang, banyak orang tua yang berbicara dengan anaknya menggunakan bahasa Indonesia tidak menggunakan bahsa daerah asal kedua orang tuanya sehingga bahasa Indonesia itulah yang dikuasai anak , maka bahasa Indonesia itu walaupun bukan bahasa daerah ibu atau bapaknya, adalah bahasa ibu anak tersebut.



Bahasa ibu lazim disebut bahasa pertama, karena bahasa itulah yang pertama dipelajari anak. Meskipun tidak selalu bahasa pertama yang dikuasai anak sama dengan bahasa pertama yang dikuasai ibunya. Atau, si anak belajar bahasa pertama tidak dari ibunya tetapi dari orang tua asuhnya.


Jika kemudian hari anak tersebut mempelajari bahasa lain, maka bahasa lain tersebut disebut bahasa kedua. Tidak jarang seorang anak mempelajari bahasa lainnya lagi sehingga ia bisa menguasai bahasa ketiga, maka bahasa tersebut disebut bahasa ketiga. Begitu seterusnya.


Yang disebut bahasa asing akan selalu merupakan bahasa kedua bagi seorang anak. Istilah bahasa asing ini sebenarnya lebih bersifat politis mengingat namanya diambil dari negara atau bangsa lain pemilik bahasa tersebut. Dari sisi urutan pemerolehan, bahasa Inggris bisa saja adalah bahasa kedua, bahasa ketiga, atau bahasa ke sekian. Akan tetapi karena bahasa Inggris berasal dari negara asing menurut orang Indonesia, maka istilah bahasa asing lebih populer digunakan untuk mengklasifikasikan bahasa Inggris dibanding disebut bahasa kedua.



Ragam Bahasa


Selain pengklasifikasikan berdasarkan jenis bahasa di atas, pada kenyataannya suatu bahasa dalam pemakaiannya bisa beragam. Meskipun dilihat dari sistem dan kosakata ragam tersebut tidak bisa disebut sebagai bahasa yang berbeda, tetapi perbedaan ragam itu cukup jelas terlihat. Kridalaksana (1989: 2-5) membagi ragam suatu bahasa dilihat dari sisi pemakai, medium, dan pokok pembicaraannya. Pembagian yang dilakukan Kridalaksana tersebut sejalan dengan pendapat Hartman dan Stork (1972).


Ahli lain, seperti Preston dan Shuy (1979) memilahnya menurut penutur, interakasi, kode, dan realisasi. Haliday (1990) membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakaian yang disebut dialek dan pemakaian menurut bidangnya yaitu register. Ahli lain, Mc David (1969) membagi variasi bahasa berdasarkan dimensi regional, sosial, dan temporal.



Menurut Tinjauan Keformalan


Pembagian ragam bahasa yang cukup populer adalah ragam bahasa yang dikemukakan oleh Martin Joos (1967). Joos membagi ragam bahasa dilihat dari sisi keformalan. Dari tinjauan keformalan, suatu bahasa bisa dipilah menjadi ragam beku (frozen), ragam resmi ( formal), ragam usaha (konsultatif), ragam santai (casual), dan ragam akrab (intimate).


Contoh ragam beku adalah bahasa-bahasa yang digunakan dalam situasi formal yang khidmat, seperti pada upacara-upacara resmi, upacara kenegaraan, khotbah di mesjid, bahasa undang-undang dan sejenisnya.


Contoh ragam formal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran, dan sejenisnya.


Ragam usaha adalah variasi bahasa yang biasa digunakan dalam pembicaraan sehari-hari di sekolah, rapat-rapat yang berorientasi pada hasil. Ragam ini ragam bahasa yang oprasional.


Ragam santai atau ragam kasusal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi. Contohnya adalah bahasa yang banyak digunakan antar teman sejawat, sahabat, atau teman dalam situasi kekeluargaan. Bentuk bahasa ini umumnya pendek-pendek, beberapa kata yang tidak begitu penting dalam menentukan makna sering dilesapkan sehingga secara gramatikal, ragam bahasa ini tidak selengkap struktur bahasa ragam formal atau ragam beku.


Ragam yang paling tidak formal adalah ragam akrab atau ragam intim. Komunikasi antar suami-istri atau sahabat yang hubungannya sangat dekat seringkali hanya menggunakan satu atau dua kata, bahkan hanya isyarat saja


Abdul Chaer dan Leonie Agustina (1995:94) memberikan contoh pembedaan yang lebih konkret dalam pilihan struktur kalimat bahasa Indonesia sebagai berikut:

(a) Saudara boleh mengambil buku-buku yang Saudara sukai.

(b) Ambillah yang Kamu sukai !

(c) Kalau mau ambil saja !

 
Kalimat (a) lebih formal dibanding (b). dan kalimat (b) lebih formal dibanding (c). Kalimat (a) termasuk ragam formal atau usaha. Kalimat (b) termasuk kategori ragam santai, dan kalimat (c) termasuk ragam akrab.


Dalam bahasa Inggris, Joss (Fishman: 1972:190) memberikan perbandingan sebagai berikut:


Casual (ragam santai) Consultative (ragam Usaha) Formal (ragam resmi)

C’n I help You?               Can I help You?                       Can/May I help You?

I c’n help You.                  I c’n help You.                          I can help You.


Menurut Tinjauan Pemakainya


Dari tinjauan pemakainya, ragam suatu bahasa biasa disebut dengan dialek dan idiolek. Istilah dialek melingkupi suatu kelompok penutur, sedangkan idiolek merujuk pada ciri khas individu atau perseorangan. Istilah dialek bisa digunakan untuk ragam yang disebabkan karena wilayah (dialek regional), strata sosial (dialek sosial), dan kurun waktu (dialek temporal).


Dialek regional adalah variasi penggunaan bahasa yang ditunjukkan oleh kenyataan bahwa pemakaian suatu bahasa pada wilayah yang berbeda memiliki ciri khas yang berbeda. Bahasa yang digunakan masyarakat yang tinggal di Bandung dengan sebagian Cirebon adalah bahasa Sunda. Akan tetapi, meskipun bahasanya sama, tampak terasa perbedaannya, baik pada intonasi maupun kosakata tertentu. Variasi tersebut disebut dialek. Demikian pula bahasa Melayu, ada dialek Betawi, Ambon, maupun Medan.


Dari sisi tingkat sosial, suatu bahasa ternyata memiliki keunikan tersendiri jika dilihat dari tingkat status sosial penuturnya. Bahasa yang digunakan oleh para pedagang berbeda dengan bahasa para guru. Lain pula penggunaannya di kalangan Supir.


Dari sisi waktu, kita bisa melihat perbedaan bahasa Indonesia yang digunakan pada tahun 40-an dengan bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang. Dialek Melayu pada jaman Sriwijaya berbeda dengan Dialek Melayu jaman Abdulah bin Abdul Kadir Munsyi.


Istilah idiolek adalah istilah yang digunakan untuk menandai ragam suatu bahasa yang menjadi ciri khas seseorang. Sebagai contoh, Soeharto (Presiden RI kedua) memiliki ciri khas dalam berbicara, demikian pula Habibie, Abdurahman Wahid, dan Megawati. Tanpa melihat orangnya, dari pola intonasi dan pilihan katanya, kita bisa menebak siapa orangnya. Tentu saja jika kita cukup mengenal orang tersebut dengan baik.



Faktor-faktor Penentu Timbulnya Variasi Bahasa


Variasi bahasa muncul karena berbagai faktor. Hudson (80:116-119) -dengan mengutip penelitian Peter Gardener (1966), James Fox (1974), Karl Reisman (1974), dan Elinor Keenan (1977) - menyebutkan norma sosial yang berlaku dikalangan masyarakat mempengaruhi bentuk komunikasi dan akhirnya berpengaruh pula terhadap bentuk bahasa. Ada norma yang mengatur kuantitas ujaran yang dihasilkan oleh individu-individu, ada norma yang mengatur giliran bicara, ada pula yang mengatur isi pembicaraan. Peter Gardener dan Jemes Fox menunjukkan kenyataan bahwa dari sisi kuantitas ujaran anggota suku Puliya di India Selatan sangat sedikit berbicara. Sedangkan masyarakat Pulau Roti sangat senang banyak bicara.


Dari sisi giliran bicara, selain norma bergiliran, Karl Reisman menunjukkan bahwa masyarakat di Antigua membolehkan seorang individu berbicara tatkala orang lain masih berbicara, bahkan dengan topik yang berbeda sekalipun. Elinor Keenan menunjukkan norma yang mengatur isi pembicaraan di Mandagaskar, bahwa karena pertimbangan keselamatan dan ingin menyimpan rahasia tertentu seseorang bisa berbicara dengan bahasa yang tidak mengandung informasi.


Menurut Breen dan Cadlin, Morrow, dan Widodwwson (dalam Tarigan, 1989:16), hakikat komunikasi berlangsung dan dipengaruhi oleh konteks wacana dan sosiokultural pemakainya. Aspek konteks dan sosiokultural inilah yang memberikan kendali pada pemakaian bahasa yang tepat serta menjadi petunjuk bagi interpretasi ucapan dengan benar.


A. Tallei P. (1999), ketika menjelaskan kendala budaya dalam pengajaran bahasa, menunjukkan bahwa tiap bangsa dengan latar belakang sosio-kurtural yang berbeda mempunyai norma berbahasa yang berbeda pula. Orang yang berbeda bahasa dan latar belakang, ketika berkomunikasi satu sama lain, akan mengalami kendala komunikasi yang terkait dengan budaya asal itu. Betapa kuatnya pengaruh budaya dalam kegiatan berkomunikasi antar pemakai bahasa yang berbeda dapat menimbulkan peristiwa yang lucu, menggelikan, bahkan menimbulkan kesalahpahaman, goncangan psikis, dan stres.


Dari sisi kebutuhan penutur dalam kontak sosial Suwito (1989:8) menjelaskan bahwa sebagai alat komunikasi, bahasa berwujud varian-varian bahasa yang pemakaiannya diselaraskan dengan kebutuhan penutur dalam kontak sosialnya. Kepada siapa ia berbabahasa, bahasa apa yang digunakan, kapan dan dimana bahasa itu dipakai, merupakan gambaran tentang pemakaian bahasa dalam kontak sosial penutur yang masing-masing memerlukan pemilihan varian bahasa tertentu dalam pengungkapannya. Karena pertimbangan-pertimbangan di ataslah maka jenis suatu bahasa dan ragam suatu bahasa tertentu menjadi bervariasi.


Rangkuman


Fungsi Bahasa bahasa yang utama adalah sebagai alat komunikasi. Jika fungsi itu dikaitkan dengan budaya maka bahasa berfungsi sebagai sebagai sarana perkembangan kebudayaan, jalur penerus kebudayaan, dan inventaris ciri-ciri kebudayaan. Jika dikaitkan dengan kehidupan sosial, maka bahasa berfungsi sebagai bahasa nasional, yaitu lambang kebanggaan kebangsaan, lambang identitas bangsa, alat pemersatu, dan alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Sebagai bahasa kelompok, bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan interaksi sehari-hari dalam kelompok itu. Dari sisi perorangan, bahasa memiliki fungsi instrumental, menyuruh (regulatory), kepribadian, pemecahan masalah, dan khayal.


Dari sudut pandang pendidikan, bahasa memiliki fungsi integratif, fungsi instrumental, fungsi kultural, dan fungsi penalaran.


Istilah jenis bahasa merujuk pada pengklasifikasian bahasa-bahasa yang berbeda, sedangkan istilah ragam digunakan untuk menggambarkan adanya variasi pada satu bahasa yang sama.


Menurut Tinjauan Sosiologis Jenis Bahasa bisa dikatagorikan bahasa standar , bahasa klasik, bahasa artifisial, bahasa vernakular, dan bahasa kreol. Bahasa standar adalah bahasa yang memiliki ciri standardisasi, otonomi, historisitas, dan vitalitas. Bahasa berjenis klasik hanya memiliki kriteria standardisasi, otonomi, dan historisitas. Bahasa artifisial adalah bahasa yang memiliki ciri standardisasi dan otonomi. Jenis bahasa vernakular adalah jenis bahasa yang memiliki pemakai (vitalitas), otonomi, dan historisitas, tetapi tidak memenuhi kriteria standardisasi. Jenis dialek adalah bahasa yang memiliki ciri vitalitas dan hitorisitas tetapi tidak mempunyai otonomi dan standardisasi. Bahasa jenis kreol adalah bahasa yang hanya memiliki ciri vitalitas saja.


Jenis bahasa jika dikaitkan dengan kepentingan sosial politik atau kebangsaan, bisa dibedakan menjadi jenis bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa negara, dan bahasa persatuan.


Dilihat dari proses pemerolehannya, bahasa bisa dipilah menjadi bahasa ibu atau bahasa pertama, bahasa kedua, dan bahasa asing.


Ragam bahassa menurut tinjauan keformalannya, suatu bahasa bisa dipilah menjadi ragam beku (frozen), ragam resmi ( formal), ragam usaha (konsultatif), ragam santai (casual), dan ragam akrab (intimate). Dari tinjauan pemakainya, ragam suatu bahasa biasa disebut dengan dialek dan idiolek. Istilah dialek bisa digunakan untuk ragam yang disebabkan karena wilayah (dialek regional), strata sosial (dialek sosial), dan kurun waktu (dialek temporal).


Ada beberapa faktor yang menimbulkan variasi dalam penggunaan bahasa. Faktor-faktor tersebut adalah norma sosial, konteks wacana, sosiokultural pemakainya, dan faktor-faktor penentu dalam berkomunikasi seperti kepada siapa berbabahasa, kapan dan dimana bahasa itu dipakai, dengan media dan saluran apa .


Tugas Mandiri


1. Jelaskan perbedaan fungsi bahasa dari sudut pandang berbagai sudut pandang budaya dengan fungsi budaya untuk perorangan ? Apa kaitan fungsi bahasa dalam budaya dengan fungsi bahasa untuk perorangan ?


2. Alasan apakah yang menjadi dasar penentuan bahasa Internasional yang digunakan dalam organisasi PBB ? Apa fungsi bahasa dalam kegiatan organisasi tersebut ?


3. Carilah contoh-contoh nyata penggunaan ragam bahasa yang berbeda dilihat dari sisi keformalannya. Simpulkan ciri-ciri pembeda antar ragam bahasa tersebut !


4. Apa yang menyebabkan suatu sistem bahasa yang sama menjadi berbeda dalam penggunaannya ?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar